Beberapa waktu lalu, aku mulai nyoba bikin pupuk cair organik dari kulit pisang yang nggak sengaja aku bawa pulang dari kantor. Hasilnya cukup bikin semangat. Jadi aku lanjut—kali ini pakai sisa nangka dan kulit telur.
Botol demi botol mulai bertambah. Semua aku taruh di teras samping dapur.
Tempat itu tadinya cuma buat naruh ember, jemuran kecil, dan kadang sepatu. Sekarang? Isinya botol-botol aneka ukuran, warna airnya makin lama makin keruh, dan ada yang mulai bau asem-asem khas fermentasi.
Aku lihat-lihat lagi,
Teras dapurku sekarang mirip laboratorium kecil. Tapi isinya bukan bahan kimia—melainkan sisa dapur yang sedang berubah jadi “emas cair” untuk tanaman.
Lucu ya.
Niat awalnya cuma mau coba sekali. Tapi ternyata bikin nagih.
Setiap habis masak, aku mulai mikir dua kali sebelum buang kulit buah, ampas sayur, atau cangkang telur.
Rasanya menyenangkan ketika yang dulunya aku anggap sampah, sekarang jadi bagian dari proses perawatan bumi—meskipun cuma dari rumah sendiri.
Laboratorium mini ini nggak pakai alat canggih.
Cuma botol bekas, sedikit air, dan sisa dapur.
Tapi di dalamnya sedang bekerja sesuatu yang besar: proses alami yang sabar, pelan, dan bermanfaat.
Dan aku…
Aku cuma ibu rumah tangga biasa, yang tanpa sengaja ikut merawat bumi lewat teras dapur sendiri.
---